Ketika Ego Bias Menghilang (oleh: Mia susilawaty)
Antologi Cerpen fiksi
KETIKA EGO BIAS MENGHILANG
Oleh :Mia susilawaty
###
Rara
dan Lisa menatap langit yang sama di belakang atap Rumah. Dua sahabat ini
memang suka menghabiskan cemilan di atap Ruma Rara. Sibuknya Masa Kuliah pada
semester ke 3 mulai mengusik Lisa, terlebih lagi Lisa yang lebih sensitif sedang
terlena akan cinta yang melalaikan.
“Ra’, ko Riyu ga nelphon yah.”
Rara
: “kenapa yah, setiap kamu lagi bengong kata-kata riyu Yang mucul.”
“Raaa,
gw kan udah hampir 2 tahun sama dia. Aneh aja gitu pas ada gosip dia punya
monyet baru. Pernah gw labrak dong. Dia sumpah sumpah loh katanya Dia Cuma
sayang sama gw.”
Datanglah
Sinau seorang gadis manis berkerudung hijau muda dan sering bersin, hidungnya
yang sensitif tapi dia gadis yang punya prinsip. Orang tuanya memiliki
Pesantren Ash Shobirin, suaranya bagus dan pandai mengaji dan dia sedikit
kurang sehat karena makan terbiasa tebang pilih membuat dia punya alergi.
Alergi dengan susu membuat badannya ringkih.
“astagfirullah,
udah jam 9 ku pikir udah pada Tidur, tugasnya udah diketik yah. Heheh maaf yah
habis isya ketiduran.” Rara :”mhh udah lah, gw pikir lo doanya lama eh malah
bablas ketiduran. Awas tuh sajadah gw, besok cuci ah pake pasir hihi.”
Sinau
menanggapi, ”astagfirullah, emang iler gw najis mugholagoh apa sampe harus di
cuci pake pasir segala.”
Lisa
masih bergumam soal riyu. “raaa, ko Riyuu akhir-akhir ini”.
Via
yang tomboi dan suka ceplos kalau bicara datang dan menanggapi, ”ini lagi, riya
riyu riya riyu, ampe budek dia ga akan denger kali, ra gw makan Donat di meja.”
Padahal itu donay kemaren, Rara mengingatkan namun Via terlanjur menelan
buatnya rasanya sama saja ketika lapar. Walaupun agak sedikit keras menurutnya.
Rara hanya menggeleng melihatnya memakan sambil memegang perut dan badan
senderan di tembok
Via
menatap balik Rara dan berkata, “kan gw laper maklum jatah gw ngetik Bab 3 mana
isinya panjang, sumbernya suruh nyari sendiri dikira, gw ngetiknya pake ke dua
kaki kali, masyaAllah Langitnya bagus yah. Lisa geser...”. rarapun tertawa.
“dasar Via bisik hati kecilnya.
Setelah
via duduk ditengah tengah sahabatnya, Via mulaim mengganggu Lisa “lisaaaa, hei
hei sadar-sadar, woi udah malam. Masih aja luh yah ngelamunin rio. Makhluk kaya
dia ga pantes dipikirin.”
Sinau
:”udah hampir jam 10, tidur yuk sayang nih ga tahajut. Oh ya kan gw udah tidur
ya sayang ahh kalau ga solat.” Sinau melangkah pergi. Dan rarapun Menyusul
mengambil Air Wudhu, keduanya solat.
”lis, riyu kenapa lagi, maaf banget. Bukannya
lu yah yang agak lebai. Woles aja lagian minggu kemaren kan masih jalan. “ tanya
Via penasaran.
Lisa
:”viaaa, Riyu tuh aneh, udah tiga Hari ini balesnya singkat.”.
Via
mencoba memeberikan argumen pada lisa ”lis, lu tahu kan, mata kuliah psikhologi
Dosen bilang apa soal otak Laki-laki ga usah gw ajarin lu juga udah tahu.
Secara nilai IPK LU lebih besar.”
Lisa:”gw
ga paham akhir akhir ini.”.
Sinau
:”subahnallah, via kamu udah solat, lis udah solat?” Via dan lisa jawab bareng.
“udaaaah tadi.”
Via
:”sinauu, kan kamu tidur habis isya tadi kita udah sholat.”
“Sinau:”hehehehh oh ya, namanya tidur yah
lupa.”
Lisa:”sinau,
sini hikshiks hiks hiks.....” Lisa mulai menangis, Lisan melanjutkan lagi “perlu
Pundak.” Lirih lisa
Lalu dia meraih tangan Putih Halus Sinau “Sinau
aku tahu kadang kita ga sepaham dan kamu larang aku sama Riyu tapi aku masih
jalan sampe sekarang.”
”pake nangis lagi, dieeem ssstt udah lis gw ga
mau ogi bangun.” Sontak Via
Sinau
dan rara saling menatap, lisa :”ogi mana?”
”ogi,
ogi ituloh anjing sebelah rumah rara. Kckckck hihi>” gw masuk ah. Masalah
cowo lahi. Pusing. Gw aja barusan mual bab 3.” Jawab Via santai
Lisa melanjutkan “sinauu Cuma kamu yang
ngerti, Via ga pekak.”
Sinau mncoba menenangkan lisa ”liis, nangis
aja kok gpp, ku kan udah bilang ga ada gunanya Pacaran, Allah ga suka, kalau
kamu sedih bukan salah Riyu, maaf yah bukan aku mau nyalahin kamu. Kalau aku
ngomong nanti disangka ceramah terus.”
Rara
datang duduk kembali berniat mengajak tidur semua temannya, sedang Via masih
bulak balik ke dapur cari makanan. Rara menambahi membenarkan sinau untuk tetap
menasehati ”gpp kok sin, kadang kamu sedikit ganggu sih soal menasehati depan
umum, tapi kali ini lisa butuh kok.” Lisa dan para para sahabatnya merasa Sinau
yang paling Alim.
Lisa
akhirnya berterus terang, “aku tau aku salah. Tapi aku harus bagaimana Riyu itu
asik diajak ngobrol. Dia baik kok ga pernah nyium aku gitu, walau kadang
ngarep.”
Sinau
sontak menyadarkan temannya yang mulai tertipu muslihat setan :”astagfirullah,
mulai ngeres, istigfar lisa.”
Via
kembali datang dan menanyakan Coklat, rupanya dia masih lapar ,”ra, diatas
kulkas ada coklat bagi yah.”
Rara
menjawa:”via, itu coklat si mak buat kue, yang ada ada aja lu mah.”
Via:”gw
aduk pake gula cocol roti, laperr nih. Lagian tadi kita ga beli cemilan sih.
Adoohh usus gw tauran nih.” Sinau yang sedang serius dengan lisa menanggapi Via
untuk mengingatkan membaca doa sebelum makan agar kenyang,
Via:”oohh
ya, masyaAllah ustazah ku sinau, ok doa dulu bismika Allahumma ahya wabismika
Amuut.”
Sinau,
lisa dan rara terheran heran
Via
menjawab ”yah iya lah apa yang salah emang gw mau tidur, kenapaaa? Via
menambahi “ya ampun iya sinau aku udah doa kok dalam hati tadi, basmalah baru
mangap deh. Sekarang gw ngantuk.”
Lisa
kesal sama via yang mengganggu mereka ngobrol ”via usah sana tidur, sinau udah
cuekin aja, sinau jadi gw harus gimana nih.”
Lisa
meraih tangan sinau, “sinau jangan marah, kalau kemaren ku bohong soal putus.
Sebenernya belum.” Sambil menggeleng mengusap sisa air mata di pipinnya.
Rara:”kalau
gw sih udah tahu lu bohong lis, kan pulang Kampus lu di bonceng ama Riyu kan.”
Sinau:”mhh
kok gitu,( acchiiimmm) (waktu semakin
malam, sinau mempunyai kebiasaan suka bersin. Hidungnya terlalu sensitif. Cuaca
dingin membuatnya sedikit menggigil.
Rupanya
mendengar Sinau bangkis Via tak kuasa menahan diri, diam diam ia memperhatikan
kondisi Sinau yang kurang Fit:”ustazah pake selimut yah, nah lanjutkan
ceramahnya.
Via
pun berbisik pada sinau :”hajar ustazah ceramahin dulu, habis ini langsung
tidur yah.”
Sinau:”jazakillah
khoir, via.”
Sinau
meraih tangan Lisa, dan menghapus air mata lisa yang mulai membasahi pipinya.
Sinau
mulai menenangkan lisa ”tahu ga sih, lihat langit itu indah denganbintang
bintangnya, namun kita lebih memilih terpesona sama ciptaannya yang kalau pagi
sudah lenyap. Bukankah yang seharusnya kita Puji adalah sang pemilik Langit dan
seisinya. Ketika kita terlalu memuji ciptaanya Allah akan coba kita karena
Allah ga mau kamu akan lebih kecewa, Allah ingin lisa berdoa kepadaNya, Maka keadaan
sekarang sudah ijin Allah lis yaitu sebuah kekecewaan. Lis, aku pernah buat
salah aku bukan seseorang sempurna namun, mengulang ngulang kesalahan dengan istigfar
bukan untuk mengulang kesalahan yang sama.”
Lisa
merasa tenang, dan dia menambahi ”ya ya sinau, ku Tahu ga ada yang sempurna
tapi kali ini Rio seperti meyakinkan aku dia lebih serius dari yang lainnya. Ku
bingung, sikapnya sekarang, aku bersedia kok ga ketemu dia, karena dia pernah
bilang akan melamar.”
Sinau
;”menghitbah, sampai suda seserius itu?”


Komentar
Posting Komentar