Mia dan SANG Putri
Mia dan Sang Putri
Hiduplah seorang anak perempuan tinggal bersama kedua Orang Tua dan ketiga
Adiknya. Adik Ke dua bernama Maura dan kedua Adiknya laki-laki Harun dan Ayyas. Mia
adalah anak yang ceria dan bahagia sampai suatu ketika keluarga pindah ke suatu
desa. Ibunda Mia adalah wanita istimewa di hidupnya, namanya secantik dirinya
namanya Ibu Mawar ibu selalu tersenyum dan mempunyai hobi membaca Buku. Bagaimana dengan Ayahnya, Pak Adi adalah
seorang Bapak yang penuh Kesabaran Pekerja Keras. Kantor tempat ia Bekerja
mengharuskan ia Pindah untuk mencari Pekerjaan di Kapungnya. Dan Mulailah ia
dengan Kehidupan Baru bersama Keluarganya.
Rumahnya cantik, Di Rumah Putihnya nan Bersih, dihiasi pot-pot cantik dan tanaman
hias didepan halamannya yang awalnya kosong menjadi penuh warna dengan mawar yang
berwarna-warni. Ada merah pink dan kuning. Tentu ada juga mawar putih seperti
hobinya. Mia sadar Dunia anak-anaknya telah berubah mengingat ketiga Adiknya
bertambah Besar, ditambah ia dan keluarganya kini pindah kerumah Putih. Pikirannya sering menerawang menembus awan
putih lalu diatas awan itu ia duduk dan kembali mengingat saat-saat ia bahagia
berlarian di Tanah Lapang berumput Sangat Hijau bersama sahabatnya, Rini,
Ana dan Adi. Ia Sedih cepat sekali ia
Pindah padahal baru saja ia dapatkan sahabat seperemainannya..
Hanya Ibu sahabat terbaiknya, ayahnya kini tak lagi kerja di Kantor. Hingga
keputusannya ke Desa adalah demi kelanjutan Hidup yang lebih baik. Harun dan
Ayyas sangat aktif. Hampir Tiap Hari
mereka berlarian mengelilingi rumah dengan, berebut mainan dan main di teras
depan. Pada suatu pagi yang sangat cerah, Mia duduk di Tangga depan Rumahnya.
Tiba-tiba Harun menepi dan bertanya: “ka Mia, wajahmu memerah seperti buah
Apel Ayah.”
Mia menoleh padanya:”Jangan ganggu Aku, main sana.”
”ibuuu, ka Mia niiih.” Teriak Harun. Kini
Harun mendekat ke pipi kakanya, hanya untuk membuat kakaknya marah.
” Ka Mia, wahnya merah, yeay merah, merah, matanya merah. Weeeww ka mia
cengeng. Weee..”
Mia:”Diaammm, ibuu Harun gangguin Aku terus nih.”
Ayyas adalah adik paling Kecil, namun Bijaknya Dia terkadang ucapannya
mirip orang Dewasa, padahal dia hanya meniru Ayahnya. Kalau lagi ngomong selalu
mengikuti ayahnya. Ayyas suka mobil-mobillan
buatan ayahnya dari kulit Jeruk Bali dan rodanya dari sendal bekas. Tangannya
sedang mengotak-atik mainannya namun matanya melirik kakanya Harun, dan
berkata:”Ayyas:” Bang Harun, kalau menggangu ka mia lagi nanti dapat hukuman
dari Ayah.”
Harun: “Hukuman apa, aku tuh Cuma
Becanda kok, weee...”
Bu Mawar keluar, dan mendapati Mia, dengan Mata Merah. Lalu berkata “kamu
habis menangis Yah, memang sunyi Rumah ini tak ada lagi Tv Kabel dan wifi
seperti dulu.”Lalu melanjutkan dengan duduk disampingnya, “Namun apa harus
kamu, menangis setiap hari, dimana Putri Senyum Ibu.”
Mia:”aku Bukan anak-anak lagi bu, aku bukan Putri yang sering ibu ceritakan
itu.”
Maura datang dengan nampan berisi Pisang Goreng, dan Ubi Goreng.
“ka Mia, minggu depan kita akan Sekolah kok, nanti kita mau diberi sepeda sama Wak Diah tetangga seberang Kebun
Ayah. Iya kan bu?”
Bu Mawar:” ya, katanya sih begitu.”
Maura:” sudah ka, jangan murung lagi, nanti juga dapat teman baru, iya kan
buk>” ,“Yuuk makan.”
Ibu: “kalian tuh tetap, puti-putri ibu, sampai kapanpun. Oh yah, agak
tenang yah baru sebulan tinggal disini, Alhamdulillah ibu merasa sehat disini.”
Harun berlari:”yeaaay Pisang Goreng.”( Nyam nyam...-suara mengunyah)
Ibu :”ayyas sayang sini, nanti Pisang Gorenganya habis.”
Ayyas :”Abang Harun, iih makan aja belum baca
Doa yah ibu abang belum Doa tuh.”
Harun:’iihh dasar Pengadu Kamu, aku udah baca Doa dalam Hati tauuuu.”
“Ayah Pulang..” kata maura. Tiba-tiba mia bergumam “ayah lupa yah kalau hp
aja hampir sebulan ayah belum isi Pulsa, kalapun Ada, apa disini ada Sinyalnya ayah
janji terus pasang wifi tapi kapan yah. Aku bosan disin!”
“sssst Ayahmu baru sampe kan.” Ibu memegang lengan Ayah.
Maura:” ayah, cobain deh Ubi Gorengnya, ini Ubi ungu enak loh.”
Maura menggoda mia dengan mengarahkan pisang
itu ke hidungnya “Aku kenyang, apasih maura minggir.” Mia pergi kekamarnya
dengan kekesalannya yang menumpuk. dan langsung merbahkan badannya. Malam
semakin Larut.
Ayah harus Bekerja di Kebun Pak Husein dengan Gaji Seadanya, syukurnya
Rumah dan Lahan Jagungnya adalah Warisan Orangtuanya hingga untuk Rumah tak
perlu ia Beli. Mia memandang langit dibalik gorden Jendela Kamarnya lalu
menarik nafas dan tetiba saja gelap dan ia begitu nyaman dengan kasur yang baru
saja ibu ganti selimutnya, wangi paduan melati, delima dan jeruk matanya
terkantuk.
Mia terellap dan silau sekali ia membuka
matanya perlahan melihat seorang wanita cantik bagaikan putri, ia melihat
sekeliling bagaikan di sekitar istana indah sekali, namun sampingnya adalah
rumahnya yang tak kalah indah dan asri namun lebih kecil.
Dia melihat sang putria berdiri dihadapan sebuah pohon. Dia terheran-heran apa yang
terjadi. Pohon tersebut tempat favorit sang putri bisa sekedar
untuk duduk memandang keindahan sekitar istana,” aku suka membaca buku disini”, kata sang
putri. Sang putri melihat sosok mia dan memanggilnya, bukahkah kau mia. Mia
kaget sekali “ berdirilah
disini apakah Nampak Rumahmu.”
Mia pun menjawab:”tentu terlihat.”
“Bisakah kau melihat Tanaman yang
berbaris dengan pot yang sedang berbunga itu.”
“Tidak begitu
Nampak memang.”
“Kalau begitu majulah perlahan.”
Mia mengikuti Sang putri, dia maju beberapa langkah dan putri
seketika menghentikankan langkahnya. “iya, stop sampai diusitu.”
Mia sudah dapat melihat dengan
jelas, sebuah Pohon yang berdekatan dengan Rumah putih
dengan tanaman berhiaskan bunga-bunga yang merambat disisi tembok sebelah
kanan. Ada pot yang menggantung serba putih, lengkap bunga yang berwarna warni.
Ada beberapa jenis anggrek. Serta pot berukuran sedang, terletak didepan
rumahnya dengan mawar merah. Ada juga tanaman hias yang bergantungan daunnya,
seperti anak tangga saling melengkung seperti tirai. Hijau putih dan hijau muda
begitu asri. Depan terasnya rumput gajah mini seperti karpet hijau menambah
hunian begitu nyaman. Ada juga tanaman suplir, bunga terompet dan sebagainya.
“lalu apa lagi yang kamu lihat.”
“aku melihat, sepeda kecil
bertengger di bawah Pohon itu, oh iya layang-layang.”
“lanjutkan.”
“aku juga melihat, awan biru berbaris
rapi.”
“lalu apalagi.”
“pohonnya, masih terlihat.yah
batang, daun ranting.
Jelas pandangan akan semakin
menyempit, Rumah putih asri dan bersih tidak terlalu jelas terlihat. Lalu
timbullah pertanyaan, apa
maksudnya aku disuruh melihat semua ini. Mia menyadari bahwa dia lebih suka berada posisi ditengah tadi.
Selain Tangkapan pandangan lebih luas dan akan mudah terlihat jelas ornament
dirumah serta tanaman yang mengelilinginya serta langitpun tampak menambah
indahnya pandangannya.
Putri bertanya, Lalu di jarak mana kau lebih nyaman melihat secara keseluruhan. Mia memutuskan untuk mundur beberapa langkah, dia kembali pada
posisi yang membuat dirinya nyaman. “mmhh, cukup aku bisa melihatnya semua.aku
suka berdiri disini tak masalah harus maju selangkah atau mundur selangkah
tapi aku tidak ingin terlalu jauh atau terlalu dekat.”
“Baiklah, Kau sudah cukup puas memandangnya, sekarang ikutlah
denganku, aku punya istana yang akan memuaskan hatimu tidak ada duka hanya
kesenangan.
Putri dalam mimpi tersebut menatapnya, mia aku akan membakar rumah yang kau pandang tadi,
aku akan hancukanr semua seisi rumah, tanaman hias itu dan bunga bunga aku
rubah menjadi naga api raksasa yang akan memakan adik-adikmu. Dan benar saja Sekejap
mia melihat ular dan naga besar. Tanaman
perlahan berubah menjadi ular raksasa hijau dan mawar-mawar berubah bagai naga
besar yang kelaparan Ingin melahap adik-adiknya yang tiba tibanya datang dari
samping kanan rumahnya. “awaaass, maura ayyas ular itu mendekat.” Jangan dia
adikku, apa yang kau lakukan kau bukan putri melainkan iblis.
Lalu, bunda dari kejauhan memanggil, “mia mia
mia”
Disaat ular yang tinggi akan melahap
adik-adiknya, mia mendengar suara bundanya. Ibu, awas bu lari, lari bu ular itu
ingin memakanmu?”
“ aku tidak akan ikut denganmu.” Mia meraung menangis dan berlari menghampiri
adik-adiknya dengan sekuat tenaganya sambil berteriak agar menhindar dari api
naga raksasa itu. Mia selamat tinggal rumahmu akan terbakar habis bila kau selalu
mengeluh , camkan itu aku akan pergi semua akan ludas terbakar. Hahahahah “tawa
sang putri.
Perlahan seseorang asing tersebut
menghilang dengan cahaya bersinar yang sangat menyilaukan. mii
terbangun dari mimpinya.
“Tungguu tunggu,.” Wajahnya pucat
berkeringat, badannya terangkat dalam posisi duduk. Kedua tangannya menutupi
wajahnya lalu beristigfar.
“Astagfirullah,aku bermimpi
rupanya.” Lalu
secepatnya ia meminta maaf sama ibu dan ayahnya, ia sering mengeluh selama ini.
Dan ibu benar rumah ini sangat indah. Setelah mimpi itu mia kembali menemukan
begitu banyak yang bisa ia lakukan, ia suka dekorasi menata bunga dan halaman.
Esoknya ia tak bertanya lagi perihal wifi ia lebih suka mengumpulkan tanaman
hias dan membantu ibu serta mengajak adiknya bermain dan semua hidup rukun dan
bahagia.
Padang, 8 Agustus 2020
Mia s cholidz
Alamat email: Miasusilawaty99@gmail.com

Komentar
Posting Komentar